Siak, Riau – 13 Maret 2026
SIAK-WJ Online | Nasib tragis menimpa seorang gadis muda asal Kabupaten Siak, Susi Yanti Br Sinaga (23). Ia meninggal dunia di Kamboja setelah diduga menjadi korban penipuan kerja di luar negeri. Namun duka keluarga belum berakhir, karena hingga kini jenazahnya masih tertahan di rumah sakit akibat keterbatasan biaya.
Susi Yanti menghembuskan napas terakhir pada Minggu, 8 Maret 2026, setelah menjalani perawatan intensif di RS Khmer Soviet Friendship, Kamboja.
Sebelum meninggal dunia, keluarga yang hidup dalam keterbatasan ekonomi bahkan telah berusaha keras mengirim biaya pengobatan sebesar Rp90 juta melalui seseorang bernama Bram Silitonga yang disebut sebagai pacar korban.
Namun takdir berkata lain. Uang habis, nyawa tak tertolong.
Kini jenazah Susi masih disimpan di lemari pendingin rumah sakit di Kamboja, sementara keluarga di kampung halaman hanya bisa menangis dan berharap ada uluran tangan agar anak mereka bisa dipulangkan ke tanah air.

Kepala BP3MI Riau, Fanny Kurniawan, menyampaikan bahwa proses pemulangan jenazah terkendala biaya yang cukup besar.
“Jenazah masih berada di lemari pendingin rumah sakit dan masih menunggu biaya pemulangan,” ujar Fanny, Kamis (12/3/2026).
Menurutnya, selain biaya pemulangan ke Indonesia, keluarga juga harus menanggung tagihan rumah sakit sekitar Rp85 juta, yang menjadi syarat sebelum jenazah bisa dibawa pulang. BP3MI sendiri telah menyurati Pemerintah Provinsi Riau dan Pemerintah Kabupaten Siak agar dapat membantu biaya pemulangan tersebut.
Dalam beberapa kasus serupa, kata Fanny, pemulangan jenazah biasanya dibiayai oleh keluarga atau difasilitasi oleh perwakilan KBRI. Namun jika tidak ada pihak yang mampu membiayai, jenazah terkadang harus dimakamkan di negara tempat korban meninggal.
“Keluarga masih memohon bantuan pemerintah. Kami terus mengupayakan agar jenazah bisa dipulangkan,” jelasnya.
Ketua DPD KNPI Provinsi Riau, Larshen Yusuf: Negara Diminta Hadir
Ketua DPD KNPI Provinsi Riau, Larshen Yunus, turut angkat bicara dan mendesak pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah nyata.
Menurutnya, persoalan ini bukan hanya menyangkut satu keluarga, tetapi juga menyangkut martabat bangsa.
“Tidak boleh ada alasan lagi. Pemerintah harus menghadirkan solusi tegas terhadap persoalan ini,” ujar Larshen Yunus.
Ia menilai Pemerintah Provinsi Riau dan Pemerintah Kabupaten Siak seharusnya dapat bersama-sama mencari jalan keluar agar jenazah warga mereka bisa dipulangkan.
“Ini menyangkut nama bangsa. Jangan sampai jenazah warga kita terlantar di negeri orang karena persoalan biaya,” tegasnya.
Larshen juga mengingatkan bahwa perlindungan terhadap Pekerja Migran Indonesia telah diatur dalam UU Nomor 18 Tahun 2017, yang memberikan peran kepada pemerintah daerah dalam perlindungan warga yang bekerja di luar negeri.
Harapan Keluarga
Sementara itu, keluarga Susi Yanti di Kecamatan Lubuk Dalam, Kabupaten Siak, hanya bisa berharap adanya perhatian dan bantuan dari pemerintah maupun masyarakat.
Mereka ingin satu hal sederhana: membawa pulang anak mereka untuk dimakamkan di tanah kelahirannya.
Penulis : Parlin Sinaga









