Kotabaru-Karawang, 20 April 2026
KOTABARU–WJ Online | Harapan warga Desa Sarimulya, Kecamatan Kotabaru, untuk memiliki akses jalan layak menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sukaseuri kini terhenti di tengah jalan. Upaya gotong royong yang telah dimulai sejak Sabtu (18/4) lalu terpaksa berhenti akibat keterbatasan anggaran, menyisakan pekerjaan yang belum tuntas dan kebutuhan mendesak yang belum terjawab.
Pelebaran jalan yang digagas warga Dusun 01—melibatkan RT 32 hingga RT 36 dari empat RW—merupakan bentuk kepedulian nyata masyarakat terhadap akses vital yang selama ini sulit dilalui, khususnya oleh mobil ambulans pengantar jenazah. Jalan sempit dan kondisi yang tidak memadai kerap menjadi kendala, bahkan dalam situasi duka.
Kepala Dusun 01, Jainudin, menegaskan bahwa pengerjaan tersebut sepenuhnya dilakukan secara swadaya, tanpa sentuhan anggaran pemerintah.

Foto : Kegiatan swadaya masyarakat terhenti karena dana swadaya masyarakat tidak cukup. (dok. Senin 20/4/2026).
“Ini murni hasil gotong royong warga. Kami patungan untuk membeli material agar jalan bisa dilalui ambulans. Ini kebutuhan dasar, bukan sekadar pembangunan biasa,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Senin (20/4).
Salah satu titik krusial yang tengah dikerjakan adalah pembangunan turap pembatas gorong-gorong sepanjang kurang lebih 5 meter. Namun, keterbatasan dana membuat pekerjaan tersebut terhenti sebelum rampung.
“Kegiatan berhenti karena dana habis. Sementara kebutuhan masih banyak, mulai dari pelebaran hingga penguatan struktur jalan,” tambah Jainudin.
Kondisi ini menjadi ironi di tengah semangat gotong royong warga. Di satu sisi, masyarakat berjuang secara mandiri demi akses pemakaman yang layak. Namun di sisi lain, keterbatasan kemampuan finansial membuat upaya tersebut tidak dapat berjalan optimal tanpa dukungan pemerintah.
Selama ini, sebagian warga terpaksa menggunakan jalur alternatif melalui kawasan Perumahan Sarimulya. Meski ada warga yang memahami, tidak sedikit pula yang merasa keberatan jika akses lingkungan perumahan digunakan sebagai jalur ambulans.
“Sebenarnya tidak enak juga kalau harus lewat perumahan terus. Walaupun ada yang mendukung, pasti ada juga yang keberatan,” ungkap salah satu warga.
Situasi ini menunjukkan bahwa akses menuju TPU bukan sekadar persoalan infrastruktur, melainkan menyangkut aspek sosial, kemanusiaan, dan pelayanan dasar masyarakat. Ketika akses terakhir dalam perjalanan hidup seseorang saja terhambat, hal ini menjadi cerminan kebutuhan mendesak yang tidak bisa diabaikan.
Warga kini berharap pemerintah desa hingga instansi terkait segera turun tangan memberikan perhatian khusus, baik dalam bentuk anggaran maupun dukungan teknis. Keberlanjutan pembangunan jalan menuju TPU Sukaseuri dinilai penting agar pelayanan masyarakat, terutama dalam kondisi duka, dapat berjalan dengan layak dan bermartabat.
Penulis : Parlin Sinaga











