KOTA CIMAHI – Minggu, 17 Mei 2026
WARTAJABAR – Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, menghadiri sekaligus memeriahkan acara Food Festival dan Silaturahmi Akbar Paguyuban Jawa Tengah yang digelar di Pendopo DPRD Kota Cimahi, Minggu (17/5/2026).
Suasana penuh keakraban dan nuansa budaya Jawa Tengah begitu terasa dalam kegiatan tersebut. Bahkan, orang nomor satu di Kota Cimahi itu turut menghibur para tamu undangan dengan membawakan dua lagu khas Jawa yang langsung disambut meriah oleh peserta yang hadir.
Acara berlangsung hangat dan dihadiri sejumlah pejabat serta tokoh masyarakat, di antaranya Asisten II Pemerintah Kota Cimahi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi, Ketua Umum Paguyuban Jawa Tengah, para penasihat paguyuban, serta perwakilan berbagai paguyuban Jawa Tengah di Kota Cimahi dan sekitarnya.
Dalam sambutannya, Ngatiyana menyampaikan rasa bangga atas terselenggaranya kegiatan silaturahmi akbar tersebut. Ia menyebut Kota Cimahi sebagai kota kecil yang memiliki keberagaman budaya dan persaudaraan yang kuat antarwarga.
“Cimahi ini hanya memiliki tiga kecamatan, tetapi penduduknya sudah lebih dari 600 ribu jiwa. Bahkan sekitar 50 persen masyarakatnya berasal dari Jawa. Maka kebersamaan seperti ini sangat penting untuk terus dijaga,” ujar Ngatiyana.
Ia juga menyinggung program mudik gratis yang rutin dilaksanakan Pemerintah Kota Cimahi setiap tahunnya. Tahun ini, Pemkot Cimahi memberangkatkan sekitar 1.200 warga menggunakan 19 bus menuju berbagai wilayah di Jawa Tengah.
“Ini bentuk perhatian kepada warga perantauan agar bisa berkumpul bersama keluarga di kampung halaman. Mudah-mudahan tahun depan rezekinya ada lagi dan bisa terus kita lanjutkan,” katanya.
Dalam suasana penuh kekeluargaan, Ngatiyana mengaku memiliki kedekatan dengan sejumlah paguyuban Jawa Tengah, termasuk komunitas Banyumasan. Menurutnya, keberadaan paguyuban menjadi simbol kuatnya persatuan masyarakat perantauan di Kota Cimahi.
“Walaupun saya orang Jogja, saya sudah ikut menjadi bagian dari kebersamaan Banyumasan. Inilah bentuk persatuan masyarakat di Kota Cimahi, yang penting kita hidup rukun dan damai di tanah perantauan,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga budaya dan adat istiadat tanpa melupakan tempat tinggal saat ini.
“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Kita harus tetap menjaga budaya daerah, tetapi juga menghormati budaya dan kehidupan masyarakat di Kota Cimahi,” tambahnya.
Menurut Ngatiyana, kegiatan Food Festival dan Silaturahmi Akbar bukan sekadar acara seremonial, melainkan ruang mempererat ukhuwah dan semangat gotong royong antarwarga Jawa Tengah di Kota Cimahi.
Festival kuliner yang digelar dalam acara tersebut dinilai menjadi sarana mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekaligus melestarikan warisan budaya daerah. Selain itu, kegiatan sosial seperti program ambulans peduli umat disebut sebagai bentuk nyata kepedulian paguyuban terhadap masyarakat.
“Kerukunan akan melahirkan kekuatan, sedangkan perpecahan akan membawa kerusakan. Maka semangat guyub, rukun, dan saling membantu harus terus dijaga,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Umum Paguyuban Jawa Tengah, Leles Sudirmanto Mangun Nagoro, menegaskan pentingnya masyarakat memiliki perlindungan BPJS Ketenagakerjaan maupun jaminan sosial lainnya.
Menurutnya, iuran yang relatif kecil dapat memberikan manfaat besar, terutama bagi pekerja informal hingga pembantu rumah tangga.
“Walaupun hanya sekitar Rp8.000 per bulan, manfaatnya luar biasa. Ini bukan hanya perlindungan, tetapi juga bisa membantu pendidikan anak sampai perguruan tinggi,” ujar Leles saat diwawancarai awak media.
Ia menjelaskan, Paguyuban Jawa Tengah tidak hanya menjadi tempat berkumpul para perantau, tetapi juga wadah membangun koneksi sosial, ekonomi, hingga pendidikan lintas daerah bahkan luar negeri.
“Kami punya jaringan sampai Taiwan dan Jepang untuk pendidikan maupun peluang lainnya. Konsep kami sederhana, bagaimana organisasi ini bisa memberi manfaat kepada masyarakat luas,” katanya.
Leles juga menyebut kekuatan besar Paguyuban Jawa Tengah terlihat dari solidaritas anggotanya yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk Jakarta dan Jawa Barat. Ia berharap kolaborasi antar paguyuban terus berkembang dan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Jawa Tengah Kota Cimahi, Mas Farhan, mengatakan program ambulans sosial atau Lonceng Mobil Ambulans belum dapat direalisasikan dalam agenda kali ini karena masih terdapat sejumlah kendala teknis.
“Kami sebenarnya ingin langsung meluncurkan satu unit ambulans, tetapi saat ini masih ada beberapa kendala sehingga sementara ditunda. Namun program itu tetap menjadi prioritas dan insyaallah akan direalisasikan pada momentum berikutnya,” ungkapnya.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kota Cimahi dan DPRD Kota Cimahi atas dukungan serta kehadiran dalam kegiatan tersebut.
“Kami dari Paguyuban Jawa Tengah mengucapkan terima kasih kepada Wali Kota Cimahi dan Ketua DPRD Kota Cimahi yang sudah hadir dan mendukung kegiatan ini,” katanya.
Kegiatan Food Festival turut menghadirkan berbagai kuliner khas Jawa Tengah yang disambut antusias pengunjung. Suasana hangat penuh kebersamaan semakin terasa ketika seluruh perwakilan paguyuban saling berinteraksi dan memperkuat solidaritas antarwarga perantauan di Kota Cimahi.
Acara berlangsung meriah hingga akhir kegiatan. Gelak tawa, hiburan musik Jawa, serta suasana penuh kekeluargaan menjadikan silaturahmi akbar tersebut sebagai momentum memperkuat persaudaraan masyarakat Jawa Tengah di Kota Cimahi.
Fajar









