Kuningan – Kamis, 4 Juni 2026
WARTAJABAR – Rangkaian Upacara Adat Seren Taun 2026 resmi dimulai pada Rabu (3/6/2026) di kawasan Gedung Paseban Tri Panca Tunggal, Kelurahan Cigugur, Kabupaten Kuningan. Tradisi budaya tahunan yang menjadi warisan masyarakat adat Sunda tersebut diawali dengan prosesi Damar Sewu sebagai penanda dimulainya seluruh rangkaian kegiatan hingga 8 Juni 2026.
Bupati Kuningan, H. Dian Rachmat Yanuar, dijadwalkan menghadiri prosesi Damar Sewu yang berlangsung pada malam hari di Halaman Gedung Paseban Tri Panca Tunggal. Kehadiran kepala daerah tersebut menjadi bentuk dukungan Pemerintah Kabupaten Kuningan terhadap pelestarian budaya dan tradisi leluhur yang terus dijaga masyarakat adat Cigugur.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan, Funny Amalia Sari, mengatakan prosesi Damar Sewu merupakan bagian penting dalam rangkaian Seren Taun karena menjadi simbol dimulainya perayaan adat masyarakat Sunda yang berpusat di Cigugur.
“Rangkaian ritual adat dan kegiatan budaya ini berpusat di kawasan Gedung Paseban Tri Panca Tunggal. Seren Taun merupakan tradisi penyerahan hasil bumi sebagai bentuk rasa syukur yang puncaknya biasanya dilaksanakan pada tanggal 22 Rayagung dalam kalender Saka Sunda,” ujarnya.
Sementara itu, Camat Cigugur, Yono Rohmansyah, memastikan rangkaian Seren Taun 2026 telah dimulai sejak pagi hari melalui pelaksanaan Ritual Nyandak Pare ti Leuit dan Mesek Pare di kawasan Taman Sari Paseban.
“Dinten ayeuna ngawitan, tabuh 8,” kata Yono saat dikonfirmasi, Rabu (3/6/2026).
Menurut Yono, setelah prosesi tersebut, berbagai kegiatan budaya lainnya digelar secara berkesinambungan, mulai dari Siraman Bale Kembang, Damar Sewu, hingga pertunjukan seni tradisional yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari perayaan Seren Taun.
Seren Taun merupakan tradisi agraris masyarakat Sunda yang dilaksanakan setiap tanggal 22 Rayagung atau bulan terakhir dalam kalender Sunda. Tradisi ini menjadi simbol rasa syukur atas hasil panen selama satu tahun sekaligus doa bersama untuk memohon keberkahan dan hasil pertanian yang melimpah pada musim tanam berikutnya.
Funny menjelaskan, prosesi Damar Sewu memiliki makna filosofis yang mendalam. Dalam bahasa Sunda, damar berarti lentera atau obor, sedangkan sewu berarti seribu. Prosesi tersebut diwujudkan melalui arak-arakan seribu obor yang melambangkan cahaya kehidupan, harapan, semangat kebersamaan, serta penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur.
Selain memiliki nilai spiritual dan budaya, Damar Sewu juga menjadi daya tarik wisata budaya yang selalu dinantikan masyarakat. Prosesi ini menggambarkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta yang menjadi salah satu filosofi utama dalam tradisi Seren Taun.
Pada hari pertama, rangkaian kegiatan diawali dengan Ritual Nyandak Pare ti Leuit dan Mesek Pare pada pukul 08.00 hingga 11.00 WIB di Taman Sari Paseban. Selanjutnya, Siraman Bale Kembang digelar pukul 16.00 hingga 17.00 WIB di lokasi yang sama.
Adapun prosesi Damar Sewu berlangsung pada malam hari pukul 19.00 hingga 20.30 WIB di Halaman Gedung Paseban Tri Panca Tunggal. Kegiatan diawali dengan sambutan Bupati Kuningan dan dilanjutkan dengan berbagai pertunjukan seni budaya Sunda.
Sejumlah kesenian tradisional yang ditampilkan antara lain Tari Puragabaya Gebang, Tari Kaulinan Barudak Lembur, serta Rampak Kendang yang dikenal dengan gerakan dinamis dan kekompakan para penampilnya.
Melalui pelaksanaan Seren Taun 2026, masyarakat adat Cigugur bersama Pemerintah Kabupaten Kuningan berharap tradisi yang telah berlangsung selama puluhan tahun tersebut dapat terus dilestarikan. Selain menjadi sarana ungkapan rasa syukur atas hasil bumi, Seren Taun juga diharapkan mampu memperkuat identitas budaya daerah serta meningkatkan daya tarik wisata budaya Kabupaten Kuningan.
Dedi. J









