JAKARTA – Kamis, 25 Juni 2026
WARTAJABAR – Gelombang aksi unjuk rasa mahasiswa yang berlangsung di sejumlah titik strategis di Jakarta sepanjang Juni 2026 menjadi perhatian besar media massa dan publik di ruang digital. Demonstrasi yang digelar mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jabodetabek tersebut mengangkat beragam isu, mulai dari kebijakan ekonomi, penolakan kenaikan harga BBM, evaluasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga kritik terhadap praktik militerisme.
Berdasarkan riset yang dilakukan PT Binokular Media Utama (Binokular) menggunakan teknologi Big Data Analytics, percakapan publik terkait aksi mahasiswa dan kelompok masyarakat pada periode 11–23 Juni 2026 menunjukkan tingginya perhatian masyarakat terhadap isu tersebut, baik melalui pemberitaan media massa maupun media sosial.
Pemberitaan Media Didominasi Sentimen Negatif
Melalui platform pemantauan media Newstensity, Binokular mencatat sebanyak 16.428 artikel media massa membahas aksi demonstrasi mahasiswa dan elemen masyarakat selama periode pemantauan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 9.064 artikel atau 55 persen bernada negatif, 6.719 artikel atau 41 persen bernada positif, dan 645 artikel atau 4 persen bersifat netral.
Manajer News Analytics Newstensity, Nicko Mardiansyah, menjelaskan bahwa dominasi sentimen negatif lebih banyak mencerminkan kuatnya sorotan terhadap kritik, polemik kebijakan, dan tuntutan kepada pemerintah maupun lembaga negara.
“Sentimen negatif dalam pemberitaan demonstrasi tidak selalu berarti penolakan terhadap aksi mahasiswa. Dalam banyak kasus, sentimen tersebut muncul karena media mengangkat kritik, tekanan publik, dan tuntutan terhadap pihak yang dinilai perlu memberikan respons,” ujar Nicko. Kamis (25/6/2026).
Dari sisi jenis media, pemberitaan didominasi media online dengan 14.637 artikel atau 89 persen dari total publikasi. Sementara media elektronik menyumbang 1.089 pemberitaan atau 7 persen, dan media cetak sebanyak 702 pemberitaan atau 4 persen.
Puncak pemberitaan terjadi pada 12 Juni 2026 dengan 3.330 artikel, disusul 15 Juni 2026 sebanyak 2.761 artikel. Lonjakan tersebut menunjukkan meningkatnya perhatian media ketika terjadi perkembangan penting di lapangan maupun respons dari pejabat pemerintah.
Instagram Jadi Pusat Percakapan Publik
Di media sosial, isu demonstrasi mahasiswa menghasilkan 333.677 unggahan dengan total keterlibatan (engagement) mencapai 379,3 juta interaksi.
Instagram menjadi platform paling dominan dengan 269.024 unggahan atau sekitar 80,6 persen dari total percakapan. Posisi berikutnya ditempati Twitter/X dengan 24.437 percakapan, YouTube 17.535 percakapan, Facebook 13.460 percakapan, TikTok 7.650 percakapan, dan Threads 1.571 percakapan.
Menurut Binokular, dominasi Instagram menunjukkan bahwa penyebaran isu demonstrasi banyak ditopang oleh konten visual seperti foto lapangan, video pendek, carousel berita, dan dokumentasi aksi.
Dari sisi sentimen, percakapan publik didominasi sentimen netral sebanyak 209.193 unggahan atau 63 persen. Sentimen negatif tercatat 95.152 unggahan atau 28 persen, sementara sentimen positif mencapai 29.332 unggahan atau 9 persen.
Mayoritas Percakapan Berasal dari Akun Organik
Hasil pemantauan juga menunjukkan bahwa 267.654 percakapan atau sekitar 80 persen berasal dari akun organik, sedangkan 66.023 percakapan atau 20 persen terindikasi berasal dari akun bot.
Vice President Operation Binokular Big Data Analytics, Ridho Marpaung, menilai temuan tersebut menunjukkan bahwa perhatian publik terhadap demonstrasi mahasiswa tumbuh secara alami.
“Data media sosial memperlihatkan bahwa percakapan mengenai demonstrasi mahasiswa digerakkan terutama oleh akun organik. Ini menunjukkan perhatian publik yang kuat dan tidak semata-mata dibentuk oleh pola amplifikasi buatan,” kata Ridho.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi sinyal penting bagi pemerintah dan lembaga negara untuk membaca dinamika publik secara lebih akurat.
Isu Demonstrasi Berkembang ke Berbagai Narasi
Hasil analisis menunjukkan bahwa percakapan publik tidak hanya berfokus pada aksi demonstrasi itu sendiri, tetapi juga berkembang ke berbagai isu turunan.
Topik yang paling banyak dibahas adalah aksi mahasiswa dari berbagai kampus seperti BEM UI, Trisakti, Esa Unggul, dan organisasi mahasiswa lainnya dengan 14.035 percakapan.
Isu lain yang banyak mendapat perhatian publik antara lain pernyataan Menteri Agama Nasaruddin Umar mengenai pentingnya demonstrasi yang santun, polemik pertemuan BEM UBK dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, kekhawatiran terhadap tindakan represif aparat keamanan, serta perdebatan terkait harga BBM.
“Percakapan publik tidak hanya membahas siapa yang turun ke jalan, tetapi juga bagaimana pemerintah merespons, bagaimana aparat mengelola keamanan, dan bagaimana tuntutan mahasiswa dikaitkan dengan isu ekonomi serta kebijakan publik,” ujar Nicko.
Jaringan Percakapan Didominasi Akun Hub
Analisis Social Network Analysis (SNA) menemukan adanya enam klaster komunitas, tiga akun hub utama, serta beberapa akun penghubung (bridge) yang berperan dalam distribusi informasi.
Pola jaringan yang terbentuk menunjukkan model scale-free atau hub-spoke, di mana sebagian besar percakapan mengalir dari akun-akun besar menuju akun-akun yang lebih kecil.
Selain itu, ditemukan indikasi awal fenomena echo chamber, yakni kondisi ketika kelompok-kelompok pengguna cenderung hanya berinteraksi dengan narasi yang sejalan dengan pandangannya masing-masing.
Meski demikian, sejumlah akun media dan individu masih berperan sebagai jembatan yang menghubungkan berbagai klaster percakapan sehingga memungkinkan terjadinya pertukaran informasi yang lebih luas.
Pentingnya Respons Berbasis Data
Berdasarkan hasil pemantauan tersebut, Binokular menilai pemerintah dan lembaga negara perlu mengelola isu demonstrasi dengan pendekatan komunikasi yang lebih terbuka dan berbasis data.
Selain menjaga ketertiban, pemerintah juga dinilai perlu memberikan penjelasan yang jelas mengenai tindak lanjut terhadap aspirasi yang disampaikan mahasiswa dan masyarakat.
Ridho Marpaung menegaskan bahwa kritik dan aspirasi publik seharusnya dipandang sebagai bagian dari proses demokrasi dan evaluasi kebijakan.
“Pemerintah perlu berbesar hati mendengar aspirasi serta kritik yang disampaikan masyarakat dan mahasiswa. Kritik dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki berbagai kebijakan dan program yang belum berjalan optimal,” ujarnya.
Di sisi lain, Ridho juga mengajak mahasiswa dan kelompok masyarakat untuk terus menyampaikan aspirasi secara damai, beradab, serta menjaga independensi gerakan dari kepentingan politik praktis.
“Sejarah mencatat banyak perubahan penting di Indonesia lahir dari gerakan mahasiswa. Karena itu, kemurnian perjuangan dan penyampaian aspirasi secara damai harus tetap dijaga demi kepentingan bangsa,” pungkasnya.
Penulis: Binokular | Publisher: TIM/RED








